Beranda » Opini » Menghadap Qiblat atau Barat?

Menghadap Qiblat atau Barat?

Menghadap Qiblat (Ka’bah) adalah salah satu rukun shalat. betulkah, shalat kita sudah menghadap qiblat?. Ilmu falaq, kini sudah nyaris tidak populer lagi. mungkin, hanya di pesantren besar saja ilmu falaq masih ada. ilmu yang didalamnya juga membahas cara menentukan arah qiblat. salah satu sebab mengapa ilmu falaq tidak populer lagi adalah ilmu falaq terlanjur di klaim sebagai ilmu tanggal, membuat tanggalan. didalam tanggalan termuat waktu-waktu, hari-hari penting dalam Islam. ilmu membuat tanggalan, seolah dilestarikan hanya kalangan tertentu yang berkepentingan dengan pembuatan kalender atau tanggalan. ilmu falaq, sekarang hanya dikuasai orang/kelompok tertentu saja. keberadaanya sebagai bagian dari pendidikan agama islam, nyaris dilupakan. sudah kadung, ilmu falaq adalah ilmu tanggalan sedangkan tanggalan, kita hanya tinggal beli, tanpa ada keinginan untuk mempelajarinya. bahkan, seolah tidak populernya ilmu falaq juga karena pengaruh sistem yang ada pada sistem pendidikan kita. Pesantren, juga banyak melupakannya. yang tidak lupa adalah institusi negara yaitu departemen agama, namun entah kenapa hanya kadang-kadang saja Departemen agama mensosialisasikan pengtingnya ilmu falaq. serta pesantren-pesantren tertentu, sebagian masih melestarikannya.

begitu juga dengan arah qiblat dalam shalat kita. sudah kadung menjadi mindset kita bahwa menghadap qiblat adalah menghadap ke barat dengan serong ke kanan sedikit. sedangkan serong ke kanan kita tidak pernah terukur oleh teori dan kenyataan yang semestinya. semua itu, hanya kira-kira saja atau hanya berdasar pada naluri saja. di kebumen, masih sedikit masjid yang membuat shafnya sesuai dengan teori menentukan arah qiblat. kompas, memang sangat membantu. namun demikian untuk menentukan besar kecilnya derajat kemiringan tetap menjadi yang utama.

sering kita dengar, menghadap ke barat, kalau tidak pas, kemungkinan shalat kita sedang menghadap negara klub sepakbola yaitu manchester united inggris. karena, meleset satu derajat saja, sudah tidak menghadap ke qiblat dengan pas. memang, jika di lihat dari skala makro, Indonesia berada di sebelah arah timur makkah (ka’bah), sehingga sebagai negara yang disebelah timur arah ka’bah, mestinya menghadap ke barat. sekali lagi, derajat kemiringan dari titik berdiri, sangat menentukan pas tidaknya dalam menghadap.

lalu, apakah shalat kita sah?

urusan diterima atau tidak diterima, itu adalah urusan Allah SWT. ukuran sah tidaknya bisa di lihat dari terpenuhinya syarat dan rukun shalat.

setidaknya, jika memang arah qiblat kita belum pas, sejatinya kita adalah menghadap Allah SWT. namun demikian, upaya untuk menghadap qiblat dengan pas harus benar-benar di lakukan.

departemn agama, adalah isntitusi yang paling bertanggung jawab untuk membangkitkan kembali ilmu menentukan arah qiblat pada sistem pendidikan agama Islam kita.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: